Sabtu, 28 April 2018

PUISI-PUISI MIDOGHFORTE

http://id.klipingsastra.com/2018/04/midoghforte-sebuah-tempat-tidak-biasa.html

Midoghforte Sebuah Tempat tidak Biasa - Midoghforte Mereka-reka 
Perjumpaan - Midoghforte Mereka Baru Tiba - Midoghforte Kejujuran 
yang Melukai - Midoghforte Berkeliaran di Bukit-Bukit

Midoghforte
Sebuah Tempat tidak Biasa

Aku lupa mencatatnya pada musim hujan di kotamu
ada lelaki bertopi angsa bermain biola di pojok
pedestrian taman kota ada kolase peristiwa tumbuh
ketika istri menanak sepatu bot di atas tempat tidur
di meja makan anak-anak meninggalkan silsilah ibu
melacak kaki-kaki di lantai batu
menunggu anjing-anjing
tiba dari kebun belakang lalu koran dibekukan hujan
dan kau baca ulang berita melubangi tubuh
perempuan dalam tipografi puisi mungkin lelaki
di balik pintu terkunci dalam memori sunyi mungkin
suara berderap-derap
menerobos kamarku entah anjing
entah kereta berbendera bunga-bunga berkibar pada
putaran mesin mimetik memuntahkan sriwijaya
di peradaban yang sibuk mencetak
nama-nama entahlah
mungkin gonggongan anjing
mengantarku ke rimba fi ksi
yang tumbuh dari rahim ibu dalam rebusan sepatu
kicauan biola dan mitos piano lelaki tua yang
menunggu
midoghforte,
kita berjalan-jalan merajah lapis kenangan.

Kemiling, 14 November 2017


Midoghforte
Mereka-reka Perjumpaan

Lelaki itu sebentar lagi jatuh ke tanah ia ingin
mengganti paru-parunya menjadi respirasi
hutan tropika merawat benih tanpa pupuk lalu
siang dan hujan memicingkan garis cahaya
menembus celah rumah oh ia datang lagi
membawa sisa pesta tadi malam dengan
botol-botol serupa menhir menancap di tanah
pada tataran kosmis dan kenangan berjalan
sendiri ia pun mengganti oksigen dengan
kabondioksida yang menguap dari rawa 
di pesisir pantai timur sumatera
menukar jantungnya dengan pepohonan 
di ranting sungai mengusir burung-burung 
pergi ke muara lalu mereka-reka 
perjumpaan memahat satu ingatan saat
cahaya gelap terang saat kelelakian
bukan amarah pada 
jalan-jalan dilumpuhkan.

Kemiling, 29 November 2017


Midoghforte 
Mereka Baru Tiba

Pendar cahaya di kuncup rawa memintas
waktu lisanku dari kepala ke lidahku dari
kepala ke tanah lempung kau tulis semburat
liris mungkin tangis sungai-sungai yang luka

: Pesisir timur kelopak pagi masih tertutup kabut

Siapa penyinta saat awan jatuhkan hujan
di tanah belum menjadi apa-apa tumbuh
mendewasakan pikiran menoleh masa
perundagian kala tembikar mencetak logam
membongkar huruf-huruf di kepalamu nah ini
bahasa apa masa-masa terlupa jam-jam mengeja
lisanku seingat anggrek rawa dari melayu Austronesia
berkabar don song ketika guratan perunggu
mengirap peradaban panjang dari tempat-tempat
lain di jalan lembap dan hujan tak henti

: Mereka baru tiba entah membawa apa.

Kemiling, 7 Desember 2017


Midoghforte
Kejujuran yang Melukai

Mungkin mereka ingin menyebut kejujuran
dimulai dari tubuh di batang sungai surut ke utara
di lalu lintas menuju muara di kelokan meander
dangkal mereka melepas pakaian berpuluh abad
menyayat-nyayat tubuhnya dalam sekat alam
meringkus keterasingan tubuh itu sendiri mereka
tak peduli ketelanjangan adalah sungai kering
dilupakan ketelanjangan adalah tubuh dari humus
daun patahan ranting pohon luruh diranggas musim

Inikah lanskap yang kau sebut-sebut tubuh terakhir
di hamparan sawit dan akasia membekukan bentang
pikiran akan sejarah dan peradaban sungai dan rawa
kau berteriak menyebut kejujuran di tubuh sore itu
di ruang-ruang imajinasi yang terbangun dari kekalahan 
demi kekalahan tetapi mereka bukan tubuh masa lalu
bukan dunia sophie yang memainkan hakikat tubuh
menuju tuhan menyebut sophie menanggalkan teks
penutup tubuh oh menakutkan sekali, siapa
memungut metafor itu ketika ketelanjangan
menghambur di sungai
dan kebun-kebun melaju
dibawa angin 10 ribu tahun lalu.

Kemiling, 10 Desember 2017

Midoghforte
Berkeliaran di Bukit-Bukit

Mereka masih berkeliaran di bukit-bukit berseragam
cerah berdiri menghadap ke laut, memunggungi
hutan-hutan, hamparan sawit tua. Sebentar lagi kita
menuju samudera menyeru ribuan orang di lembah
berpuluh tahun tubuhnya menjadi kaki dermaga

: Kenangan kampung pesisir timur hilang dalam sejarah

Musim hujan saat gumpalan awan menggantung sendu di
langit luas, di pedesaan yang suram dan dingin semua isyarat
mendung belum juga membangunkan mereka di lembah
lalu jutaan walet dan burung terbang meninggalkan goa
pergi sebelum matahari dan orang-orang pun menanam
tubuhnya menjadi kaki-kaki dermaga

: Di bukit itu kapal-kapal kebun-kebun kanal-kanal pabrik-pabrik
  tumbuh seluas samudra menuju benua-benua

Mereka masih berkeliaran di bukit-bukit bergulingguling
tak terbaca prasasti talang tuwo di antara jutaan hektare sawit
dan akasia yang menguasai seluas bentang alam, membagi
negara berlapis-lapis kisah dalam berita yang selalu gembira
mereka masih berkeliaran di bukit-bukit tak lagi dilintasi gajah
harimau dan burung-burung, berkirim kenangan di hutan rawa.

Kemiling, 3 Mei 2017


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Conie Sema
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 15 April 2018