Sabtu, 28 Januari 2017

PUISI CONIE SEMA


MEMULAI GARIS HUJAN

kebisingan itu sebentar lagi berubah airmata. kita biarkan 
kegelisahan menyelinap kemarau di gugusan hutan. seperti 
gesekan daun, pelan nyaris tak bersuara. aku tahu, angin
membawa awan membekap napas. sesak dan terputus-putus
lalu kilatan petir menggaris jalan untuk bergerak, hingga
terkapar di kelebatan hujan. bukanlah mimpi jika aku mulai 
satu dua coretan menggambar garis hujan


(22/11/2016)

PUISI CONIE SEMA


MEMULAI GARIS HUJAN

kebisingan itu sebentar lagi berubah airmata. kita biarkan 
kegelisahan menyelinap kemarau di gugusan hutan. seperti 
gesekan daun, pelan nyaris tak bersuara. aku tahu, angin
membawa awan membekap napas. sesak dan terputus-putus
lalu kilatan petir menggaris jalan untuk bergerak, hingga
terkapar di kelebatan hujan. bukanlah mimpi jika aku mulai 
satu dua coretan menggambar garis hujan


(22/11/2016)

PUISI CONIE SEMA

KETERASINGAN DI KEBUN

di sana belibis menitip sayap
ketika daun terberai hujan
seribu malaikat di jendela rumah
siapa menerbangkan burung tanpa fajar
kepak itu tak tertanda kapan Ikan
meninggalkan lebak
tanpa kemarau
rumah jalan basah. awan menggumpal
peta-peta kecemasan
langit, hujanlah di belukar rawa
tapak kerbau berjejak kepergian
tak pernah pulang
siapa yang datang
keterasingan
diam. diam. jadi jutaan kebun
sunyi berjaga-jaga


Kemiling, 21/11/2016

PUISI CONIE SEMA

SEBELUM MENEPI

siang sungai menepi 
pohon lembab berbulir
lumpur kaki di jalan
pagar ranting patah 
menyelah daun-daun
pintu-pintu terkibas
terbuka setiap angin tiba


Kemiling, 18/11/2016

PUISI CONIE SEMA

PULANG

tanah tak lagi sisa biofak pohon yang menghumus tebal
kayu terpanggang panas musim dalam hitungan cuaca
di lain tempat cerita luka bertabur peta depan rumahmu 
angin berputar mencari jalan pergi melepas ikatan waktu 
tanah ada luka, lembar-lembar sejarah telah kau koyak

aku mau hidup di udara di sungai meninggalkan ladang
kebun hutan terbabat. aku ingin berkebun di atas sungai
melewati sejarah batu-batu menata kubur di atas sungai

tanah ada luka, kemarahan tubuh tetap saja membeku
patung di halaman berdiam bisu tak mengenal rumahku 
kau tetap menolak singgah sekedar mengingat-ingat  
pesan megalitikum yang tertanam pahatan batu Pasemah 
sungai tetap saja kekalahan melukis malam dan mimpi
menancap gala menyeling jutaan biji pohon di ladang
di kebun mineral yang terus terbakar sepanjang musim


Gelumbang, 2014