Rabu, 26 Agustus 2015
Selasa, 25 Agustus 2015
Jangan Buka Kotak Pandora
Pemilu: Jangan Buka Kotak Pandora!
Conie Sema*
Kawan, jika kau tahu jalan semakin jauh, pastilah tak akan kuhitung lagi jumlah tapakku. Karena sudah ribuan bahkan jutaan langkah tak bisa kutandai lagi jejaknya. Mungkin hanya aku tak tahu. Jika waktu begitu beratnya menyembunyikan detik-detik yang meninggalkan aku. Seperti kepergian atau perpisahan tanpa airmata atau kemarahan. Tanpa senyum atau diam.
Aku tak tahu. Apakah ini sebuah peperangan. Menaklukkan untuk kemenangan. Atau sebuah sajak biasa yang menulis kisah-kisah perjuangan atau percintaan. Atau juga seperti drama bawang merah bawang putih, kisah si jahat dan si baik. Yang berakhir dengan kemenangan si baik atas si jahat. Kemudian kemenangan tersebut diselebrasikan. Dipuja puji. Sementara si jahat dicibir dan dicaci-maki.
Aku tak bisa menandai kemenangan dan kekalahan, kawan. Aku tak bisa menandai si jahat dan si baik. Karena aku tak mampu lagi membedakannya. Tak mampu lagi berpihak mendukung kemenangan satu di antaranya. Ini bukan hitungan sorga dan neraka. Di mana orang baik dan orang jahat berbondong-bondong memilih sorga. Tapi aku yakin, akan keniscayaan dalam hidupmu, hidupku.
Indonesia katamu adalah Negara kesatuan. Semusim ini kita menjadi terbelah. Dirimu jauh dariku, katamu. Aku sempat tersenyum ketika kita saling menghujat di koran kota. Ketika kita saling berkirim sajak-sajak satire. “Itu kan biasa kita lakukan dulu,” katamu. Tak usah tersinggung dan terpancing emosi. Ini hanyalah fragmen atau drama berdurasi pendek. Anggap saja dagelan ala teater sampakan. Tak usah terlalu serius dan berlebihan.
Demokrasi, salah satunya belajar saling menghargai pendapat. Kalau pendapatmu tak dihargai atau dibalas dengan ledekan, jangan marah. Itu namanya perbedaan pandangan saja. Tak usah berkoar-koar mengatakan partaimu lebih baik, lebih hebat, lebih pandai mengurus rakyat dan Negara. Janganlah membela habis-habisan bahwa calon presidenmu lebih jujur, lebih bersih, lebih tegas, lebih berani, dan lebih dekat dengan rakyat. Biasa sajalah. Jangan berlebihan.
Lihat dan berkacalah ke bawah. Betapa pemilihan umum atau pemilihan legislatif tahun ini semakin buruk dari Pemilu sebelumnya. Kualitas pemilih dan yang dipilih masih memprihatinkan. Turunlah ke kampung sampai ke umbulan. Betapa kau melihat orang-orang semakin kalap dan lapar. Matanya tajam menatap. Seakan hendak melumat habis dirimu.
“Mereka seperti orang-orang asing,” katamu. Tak nampak lagi keramahan. Hubungan kekerabatan berubah jadi hubungan yang sangat pragmatis.
Tetapi mereka tak ubahnya seperti aku dan dirimu. Sama saja dengan orang-orang yang selalu berteriak moral dan jiwa bersih. Mereka juga sama seperti pemimpin yang kau puja puji itu. Mereka adalah rakyat. Adalah kita. Kalau mereka berteriak uang, kita juga sama. Hanya gaya dan diksinya saja yang berbeda. Jika mereka berteriak “wani piro” atau berani berapa (duitnya), itu hanyalah bahasa verbal mereka. Karena tak pandai meniru bahasa santun sang pemimpin atau elit-elit kekuasaan.
Jadi biasa-biasa sajalah. Tak usah terlalu heroik. Kita tak ubahnya seperti kisah mitologi Yunani, Kotak Pandora. Kita, saat ini, ada bersama-sama mengelilingi kotak Pandora. “Jangan dibuka kotak itu,” pesanmu. Sebagaimana Prometheus mengingatkan putri Pandora untuk tidak membuka kotak tersebut.
Tetapi, Pandora terlanjur membukanya. Kotak itu sudah terbuka. Kegilaan, wabah penyakit, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu dan dendam, kelaparan, serta berbagai malapetaka lainnya muncul dari dalam kotak itu. Semua keburukan menyebar dan menjangkiti umat manusia.
Namun kita berharap, seperti legenda Yunani itu, di antara keburukan, penderitaan dan malapetaka itu, Zeus menyisahkan benda kecil yang bernama harapan. Semoga harapan itu masih dapat kita lihat usai pesta Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden, 9 April nanti. Salam Indonesia Raya! ***
*Conie Sema adalah seorang esais. Lama menekuni dunia jurnalistik di RCTI. Kini calon legislatif DPRD Lampung dari Partai GERINDRA
Kawan, jika kau tahu jalan semakin jauh, pastilah tak akan kuhitung lagi jumlah tapakku. Karena sudah ribuan bahkan jutaan langkah tak bisa kutandai lagi jejaknya. Mungkin hanya aku tak tahu. Jika waktu begitu beratnya menyembunyikan detik-detik yang meninggalkan aku. Seperti kepergian atau perpisahan tanpa airmata atau kemarahan. Tanpa senyum atau diam.
Aku tak tahu. Apakah ini sebuah peperangan. Menaklukkan untuk kemenangan. Atau sebuah sajak biasa yang menulis kisah-kisah perjuangan atau percintaan. Atau juga seperti drama bawang merah bawang putih, kisah si jahat dan si baik. Yang berakhir dengan kemenangan si baik atas si jahat. Kemudian kemenangan tersebut diselebrasikan. Dipuja puji. Sementara si jahat dicibir dan dicaci-maki.
Aku tak bisa menandai kemenangan dan kekalahan, kawan. Aku tak bisa menandai si jahat dan si baik. Karena aku tak mampu lagi membedakannya. Tak mampu lagi berpihak mendukung kemenangan satu di antaranya. Ini bukan hitungan sorga dan neraka. Di mana orang baik dan orang jahat berbondong-bondong memilih sorga. Tapi aku yakin, akan keniscayaan dalam hidupmu, hidupku.
Indonesia katamu adalah Negara kesatuan. Semusim ini kita menjadi terbelah. Dirimu jauh dariku, katamu. Aku sempat tersenyum ketika kita saling menghujat di koran kota. Ketika kita saling berkirim sajak-sajak satire. “Itu kan biasa kita lakukan dulu,” katamu. Tak usah tersinggung dan terpancing emosi. Ini hanyalah fragmen atau drama berdurasi pendek. Anggap saja dagelan ala teater sampakan. Tak usah terlalu serius dan berlebihan.
Demokrasi, salah satunya belajar saling menghargai pendapat. Kalau pendapatmu tak dihargai atau dibalas dengan ledekan, jangan marah. Itu namanya perbedaan pandangan saja. Tak usah berkoar-koar mengatakan partaimu lebih baik, lebih hebat, lebih pandai mengurus rakyat dan Negara. Janganlah membela habis-habisan bahwa calon presidenmu lebih jujur, lebih bersih, lebih tegas, lebih berani, dan lebih dekat dengan rakyat. Biasa sajalah. Jangan berlebihan.
Lihat dan berkacalah ke bawah. Betapa pemilihan umum atau pemilihan legislatif tahun ini semakin buruk dari Pemilu sebelumnya. Kualitas pemilih dan yang dipilih masih memprihatinkan. Turunlah ke kampung sampai ke umbulan. Betapa kau melihat orang-orang semakin kalap dan lapar. Matanya tajam menatap. Seakan hendak melumat habis dirimu.
“Mereka seperti orang-orang asing,” katamu. Tak nampak lagi keramahan. Hubungan kekerabatan berubah jadi hubungan yang sangat pragmatis.
Tetapi mereka tak ubahnya seperti aku dan dirimu. Sama saja dengan orang-orang yang selalu berteriak moral dan jiwa bersih. Mereka juga sama seperti pemimpin yang kau puja puji itu. Mereka adalah rakyat. Adalah kita. Kalau mereka berteriak uang, kita juga sama. Hanya gaya dan diksinya saja yang berbeda. Jika mereka berteriak “wani piro” atau berani berapa (duitnya), itu hanyalah bahasa verbal mereka. Karena tak pandai meniru bahasa santun sang pemimpin atau elit-elit kekuasaan.
Jadi biasa-biasa sajalah. Tak usah terlalu heroik. Kita tak ubahnya seperti kisah mitologi Yunani, Kotak Pandora. Kita, saat ini, ada bersama-sama mengelilingi kotak Pandora. “Jangan dibuka kotak itu,” pesanmu. Sebagaimana Prometheus mengingatkan putri Pandora untuk tidak membuka kotak tersebut.
Tetapi, Pandora terlanjur membukanya. Kotak itu sudah terbuka. Kegilaan, wabah penyakit, keserakahan, pencurian, dusta, cemburu dan dendam, kelaparan, serta berbagai malapetaka lainnya muncul dari dalam kotak itu. Semua keburukan menyebar dan menjangkiti umat manusia.
Namun kita berharap, seperti legenda Yunani itu, di antara keburukan, penderitaan dan malapetaka itu, Zeus menyisahkan benda kecil yang bernama harapan. Semoga harapan itu masih dapat kita lihat usai pesta Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden, 9 April nanti. Salam Indonesia Raya! ***
*Conie Sema adalah seorang esais. Lama menekuni dunia jurnalistik di RCTI. Kini calon legislatif DPRD Lampung dari Partai GERINDRA
catatan tercecer, sumber: www.teraslampung.com
Politik itu Indah
Conie Sema
Politik itu indah. Kita-kita saja yang salah menafsirkannya
dengan ungkapan politik itu kotor, kejam, dan biadap. Politik itu seperti
sebuah jalan menuju sorga. Makanya semua orang beramai-ramai menuju jalan itu.
Yakinlah semua ingin sampai ke sorga. Masuk ke rumah rakyat adalah pintu awal
menuju sorga.
Politik itu indah. Tidak benar orang bilang kanibal dan
saling melumat. Kalau pun ada kejadian orang saling memakan di politik, cuma
metodelogi saja. Sebuah cara untuk menuju sorga itu tadi. Karena tidak ada
kitab atau buku ilmu politik yang mengatakan politik itu jahat dan kejam. Jadi
kanibalisme itu merupakan konsekuensi orang-orang yang telah mengeluarkan
banyak tenaga pikiran, dan uang, agar sampai ke rumah rakya. Tiba di pintu
sorga.
Pesta politik tahun ini sudah selesai. KPU telah
menyelesaikan tugasnya. Telah menetapkan orang-orang yang sebentar lagi
dinobatkan penunggu sorga. Saya yang juga kepingin ke sorga, ternyata gagal.
Mungkin tak memenuhi syarat dan kemampuan yang diinginkan KPU. Maksudnya kuota
suara saya kurang banyak untuk bisa tembus ke sorga. Alias kalah suara dengan
kontestan lainnya. Kontestan satu partai sendiri.
“Hitungan awal Anda memang unggul,” katanya. Tetapi hitungan
berikutnya melorot, dan terus melorot. “Itu sebabnya kami tak bisa memberikanmu
tiket ke sorga,” tegasnya.
“Bukankah saya sudah mengajukan keberatan atas hitungan
rekan kalian di wilayah pemilihan saya?” tanyaku penasaran.
“Betul, saudaraku,” jawabnya penuh akrab dan terkesan
kekeluargaan.
“Lalu apa lagi masalahnya?”
“Sidang pleno kita sudah menetapkan laporan dari wilayah
Anda. Sudah tidak bisa lagi. Tetapi Anda tak usah putus asa. Masih ada
kesempatan anda memperjuangkannya nanti di hadapan yang mulia majelis hakim di
Mahkamah Konstitusi,” jawabnya sambil tersenyum. Seakan memberikan semangat dan
harapan baru kepada saya.
Saya hanya membalasnya dengan senyum. Saya berpikir akan
bertemu hakim-hakim konstitusi yang wajahnya seperti Tuhan. Dengan para
malaikat di KPU saja saya sudah tak kuat, apalagi bertemu tuhan-tuhan di
Mahkamah Konsitusi. Yang saya bayangkan saya akan menemui masalah baru yang
kembali menguras akal, tenaga, waktu, dan mungkin saja uang yang banyak.
Akhirnya saya batalkan keinginan bertemu tuhan-tuhan di
pusat sana. Karena yang saya gugat sangat teknis sekali masalah jumlah suara
dan penggelembungan suara dari hitungan TPS ke rekap KPU. Tentunya bukan hal
yang mengasyikkan bahkan memusingkan kepala yang mulia majelis hakim
konstitusi. Mereka akan berdalih, bukankah hal itu harusnya sudah selesai di
tingkat para malaikat.
Politik itu indah. Kita-kita saja yang selalu skeptis
memandangnya dari luar. Saya sudah melakoninya. dan memang indah. Menjadi
kenangan yang tak terlupakan. Politik itu lebih seru dari pertunjukan teater.
Skenario dengan cepat bisa berubah-rubah dalam satu pementasan. Meski tema
naskah tidak berubah, tetapi bisa muncul berbagai improvisasi mendadak.
Misalnya dari naskah adaptasi berubah jadi parodi. Lalu berubah lagi bentuk
pementasannya, dari realis menjadi absurd. Perubahan itu sulit diduga dan
diluar kendali sutradara. Apa yang akan terjadi di panggung.
“Politik itu betul-betul indah,” kata kawan-kawan tim saya.
Kekalahan kita, cuma satu penyebabnya. Apa? tanyaku. “Kita tidak siap menjadi
setan!” teriaknya. “Abang, tidak menang karena baru siap sebatas menyamar jadi
setan, bukan setan betulan!” Karena mereka tahu kita hanya menyamar jadi setan.
Makanya dimakan sama setan-setan itu.
“Lain kali kalau mau tarung lagi, abang harus jadi setan
betulan, bila perlu rajanya setan..hahaha!” ujar kawan-kawan tim ngeledeki
saya. Saya hanya bengong dan ikut tertawa.
Saya tetap meyakini politik itu indah. Politik itu adalah
cara kita untuk menuju kebaikan dalam mengatur tata laksana bernegara. Saya
tidak yakin dengan ucapan kawan-kawan bahwa sejak H-1 hari pencoblosan itu
semua orang menjadi setan. Maksudnya pemilih dan yang dipilih menjadi setan.
Penyelenggara dan pengawas menjadi setan. Saksi dan pengurus partai juga
menjadi setan.
Sulit bagi saya untuk percaya, jika para komisioner KPU yang
merupakan juri dan berdiri layaknya sosok malaikat, tiba-tiba berubah jadi
setan. Meski sudah terbukti dan nyata ada kecurangan rekapitulasi suara yang
mereka tetapkan. Mungkin itu hanya persoalan kemalasannya saja, untuk membuka
kotak suara dan menghitung ulang suara.
Sampai sekarang, pemerintah dan DPR belum mau merubah dan
menyertakan sistem teknologi yang praktis dan terintegrasi seperti digunakan
kalangan perbankan. Artinya ada sistem teknologi yang bisa mengamankan data real
di TPS. Sehingga ketika ada upaya merubah data asli TPS (manipulasi suara) akan
ditolak oleh sistem yang digunakan.
Bukankah salah satu tugas utama penyelenggara Pemilu atau
KPU adalah mengamankan suara caleg dan juga suara partai. Dan kasus curi mencuri
suara, menyulap jumlah pemilih dengan menakan suara Golput adalah kasus klasik
yang terus terjadi selama ini. Jadi pertanyaan kenapa langkah-langkah
pengamanan melibatkan teknologi tersebut tidak dilakukan KPU. Berarti ada
pembiaran terhadap sistem yang bolong dan memberi peluang dijebol maling.
Ada upaya bantuan teknologi (Bantek) yang dilakukan KPU
dengan membentuk kelompok kerja di tingkat PPK. Tetapi bantek ini saya nilai
hanya sebatas rekapitulasi C-1 yang justeru saya curigai, malahan dijadikan alat
justifikasi C-1 folio yang sudah bodong alias sudah dirubah penyelenggara.
Itu dapat kita buktikan waktu uploadnya tidak serentak
setelah hasil penghitungan di TPS. Bahkan sampai KPU pleno di tingkat provinsi
dan nasional, data C-1 tersebut masih belum lengkap di kirim ke website KPU
Nasional.
Molornya waktu pengiriman data C-1 ini patut dicurigai ada
upaya memberikan kesempatan maling masuk untuk mencuri dan merubah rekapitulasi
suara di tingkat KPPS di TPS. Dan hal itu terjadi dengan beberapa data C-1 dari
beberapa TPS yang dikirim di websitenya KPU Nasional, tidak sama dengan C-1
yang kita dapatkan.
Namun KPU akan berdalih. Bahwa penggunaan teknologi tersebut
terutama sampai ke tingkat desa atau TPS, sulit untuk dilaksanakan karena
keterbatasan sumber daya manusianya.
Saya tetap berprasangka positif. Bahwa para kontestan yang
ditetapkan KPU lolos sebagai penunggu sorga itu, sudah benar sesuai aturan dan
perundangan. Bukan hasil kecurangan dan kanibalisme suara. Dan KPU pun pasti
meyakininya, bersumpah sebagai sebuah kebenaran. Bukan kebohongan dan kejahatan
sistematis dan terorganisir secara massif. Atau kata lainnya, kejahatan
sindikatif Pemilu di Negara demokratis ini.
Bravo KPU, yang sudah bekerja keras mengantar kawan-kawan
kita menjadi penghuni sorga. Di rumah rakyat. Di parlemen yang terhormat!***
Rabu, 12 Agustus 2015
LEBAK (Cerbung)
http://www.ibubumi.com/lebak_berita121.html
LEBAK (1)
LEBAK (1)
Hasmar
masih memeluk isterinya. Pagi dan mimpi berpisah dalam cahaya terang. Menembus kamar tidur. Suara kesibukan
di luar rumah terus berlangsung sejak subuh. Tidak peduli pada lelaki dan
perempuan yang baru saja pergi meninggalkan peristirahatan tadi malam.
Pagi
adalah harapan. Orang-orang bangun dan bekerja bersama matahari. Mereka tahu
malam adalah mimpi dan siang adalah kesempatan untuk mewujudkannya. Mereka
meninggalkan rumah dan tempat tidur. Meninggalkan semua penandaan keluarga.
Menjadi orang kebanyakan di luar sana. Bekerja dan bekerja. Sampai sore bahkan
melewati malam. Mereka bekumpul dalam ruang waktu yang sama.
Lela
berulang-ulang menepuk bahu suaminya. Ia ingin suaminya bangun dan pergi ke
sungai. Bertemu rawa dan semak ilalang. Berperahu menyusuri anak sungai.
Mengais ikan-ikan yang bersembunyi di bawah lumpur liat di hamparan rawa lebak.
Lela berharap suaminya masih tetap di sana. Tidak mencoba pergi ke kota. Tetap
menjadi petani. Mencari ikan dan menanam padi. Sebagaimana dilakukan keluarga
secara turun temurun.
“Bangunlah.”
Bisik Lela.
“Hari
ini kamu harus ke sawah. Sudah tiga hari tidak ke sana,” katanya sembari menuju
ke dapur. Menanak nasi dan menyiapkan makanan untuk bekal suaminya.
Jendela
rumah panggung sederhana itu, mulai terbuka. Hasmar agak siang bangun dari
kamarnya. Matanya mengedip menahan cahaya matahari yang menerobos masuk
bersamaan jendela terbuka. Hasmar merasakan
udara pagi itu tidak sepanas pagi sebelumnya. Pertanda akan hujan. Atau
sebaliknya, mulai masuk musim kemarau.
Sudah
15 tahun ia menikah dengan Lela. Mereka belum juga dikaruniai anak. Hasmar
berasal dari Tulung Selapan, Dusun Satu. Sebuah wilayah kecamatan di Ogan
Komering Ilir. Orang tuanya lahir di sana. Sementara Lela, berasal dari Pangkalan
Lampam. Hasmar sempat ikut bapaknya bekerja di perkebunan sawit di Mesuji.
Sejak kedua orang tuanya wafat, Hasmar kembali ke kampungnya. Sebuah kampung
yang mayoritas warganya hidup dengan bertani dan mencari ikan. Sebagian lagi
mencari kayu terutama toke-toke pemilik sawmil. Sebagian lagi pengrajin tikar
pandan.
Tak
banyak pilihan hidup bagi penduduk di lahan rawa lebak dan sebagian lahan
pasang surut ini. Kecuali bertani dan mencari ikan. Mereka tidak memiliki
kemampuan mengolah lahan kampungnya menjadi lahan produktif yang dapat
menyejahterakan kehidupan mereka. Dari leluhurnya, kehidupan ekonomi keluarga
biasa saja. Cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ada beberapa keluarga yang lebih
makmur, itu pun karena memiliki lahan luas dan dijadikan kebun kelapa sawit
atau kebun karet.
Beberapa
puluh tahun belakangan ini, kehidupan warga semakin sulit akibat terus
menyempitnya lahan pertanian. Sebagian besar sudah ditimbun untuk pemukiman dan
perkebunan besar. Hanya di kawasan lebak pematang yang tersisa dan umumnya berada
di belakang perkampungan yang ditanami padi dan sayuran oleh warga.
“Aku
ke perahu dulu, Bu.” Kata Hasmar kepada isterinya. Ia menuju sungai kecil di
belakang rumahnya.
Tidak
seperti warga lain yang punya sawah di sekitar perkampungan. Sawah Hasmar terletak
agak jauh dari dusunnya. Ia harus berperahu hampir satu jam menuju lokasi sawah
miliknya. Karena itu setiap ke sawah ia selalu membawa bekal makanan sampai
pulang sore.
Lima
tahun lalu, Hasmar punya sawah setengah hektare belakang rumahnya. Karena butuh duit, sawah peningalan orang tuanya itu
dijual sama tetangganya. Hasmar lalu mencari lahan agak jauh dari kampung dan harganya
lebih murah. Ia dapat sekitar satu hektare. Sebagian besar ditanam padi.
Sisanya ia tanam sayuran.
Dusun
Hasmar berbelah sungai dengan lokasi sawahnya. Sekitar lima kilometer ke arah hulu
sungai. Kawasan ini dulunya daerah
cekungan yang genangan airnya dangkal. Disebut warga lebak lematang. Sebagian
persawahan berada di wilayah tanggul sungai dan wilayah dataran wilayah rawa belakang.
Meski jauh dari kampung, namun lokasinya cukup bagus. Tidak jauh dari tanggul
sungai juga. Selain mengurus padi, Hasmar sekalian mencari ikan. Biasanya tiap
sore sebelum pulang, ia memasang beberapa bubu ikan di parit sungai.
Hamparan
lebak di kawasan Tulung Selapan dan kecamatan di sekitarnya cukup luas. Cekungannya
pun bervariasi. Selain lebak pematang yang cekungannya dangkal, ada juga lebak
tengahan yang cekungan lebih dalam berada agak jauh dari perkampungan. Di
kawasan ini juga banyak ditemui cekungan dengan kedalaman di atas 100 meter.
Airnya sukar mengering meski di musim kemarau. Biasanya dijadikan tempat
memelihara ikan. Warga menyebutnya lebak lebung.
Masa
kecil dulu, Hasmar sering diajak kakeknya melihat pelelangan ikan di lokasi
lebak lebung di Pedamaran. Berbagai jenis ikan rawa yang dulu sering dilihatnya,
kini sudah sangat jarang ditemukan. Ia tidak tahu apa penyebabnya. Mungkin saja
kondisi air rawa dari lubuk sungai berubah. Atau karena kondisi musim dan cuaca
yang berubah.
Para
petani sawah lebak di kampung itu, merasakan musim hujan dan musim kemarau sepuluh
tahun terakhir, sering berubah-ubah waktunya. Sehingga mempengaruhi masa tanam.
KOndisi itu sangat dirasakan oleh para nelayan pencari ikan.
Bisa
jadi pengaruh musim itu berdampak dengan kondisi air di sungai utama ke habitat
lubuk. Terutama saat musim banjir. Lebak dan lubuk merupakan tempat
perlindungan ikan-ikan pada saat datangnya musim kemarau. Atau bisa saja akibat
berkurangnya pepohonan besar di sekitar tanggul sungai. Warga pesisir sungai merasakan,
jenis-jenis ikan tersebut mulai berkurang sejak pohon-pohon sepanjang sungai
banyak ditebang. (Bersambung)
Minggu, 02 Agustus 2015
Kisah Pepe
Oleh Conie Sema
Pria tua itu kini sendiri bersama isteri tercinta. ia memandang
bunga-bunga tumbuh di pekarangan rumah tua yang sangat sederhanan di
luar ibukota Uruguay, Montevideo. Udara sejuk. Air bening mengalir dari
sumur di halaman belakang. setiap pagi ia keliling kebun bersama seekor
anjing setia. “Saya sudah hidup seperti ini hampir seluruh hidup saya.
Saya bisa hidup dengan apa yang saya punya," katanya sambil duduk di
sebuah kursi tua di kebunnya.
José Alberto Mujica Cordano, lelaki tua itu, sempat 14 tahun menghabiskan waktunya di penjara. selama ditahan ia mengalami penyiksaan dan terisolasi. Mucija masa tahun 1960-an hingga 1970-an memimpin laskar gerilya Tupamaros, sebuah kelompok bersenjata sayap kiri yang terinspirasi oleh revolusi Kuba. Selama ditahan, ia mengalami penyiksaan dan terisolasi, sampai ia dibebaskan tahun 1985, ketika Uruguay kembali ke masa demokrasi.
"Masa-masa di penjara itulah yang telah membentuk pandangan hidupnya," kenangnya. “Saya mungkin terlihat seperti pria tua yang eksentrik. Tapi inilah pilihan,” kata Mujica dikutip Dream dari laman BBC, Sabtu 12 Juni 2014.
Mujica, dilantik jadi Presiden Uruguay 1 Januari 2010, meraup suara 52 % pada pemilu. Setiap hari ia tetap pulang ke rumah. bukan ke istana atau rumah dinas presiden. Sore itu, ia kembali ke rumahnya tidak lagi sebagai presiden. sebagai rakyat biasa. Ia pulang dengan kesederhanaan bersama isterinya, Lucia Topolansky. jalan menuju rumahnya tak berubah masih tanah tak diaspal. Hanya mobil VW Beetle dan harta kekayaan senilai 322.883 dollar atau sekitar Rp 4 miliar, sudah termasuk traktor dan alat pertanian milik isterinya.
“Saya disebut 'presiden termiskin', tapi saya tidak merasa miskin. Orang miskin adalah mereka yang hanya bekerja untuk mencoba memelihara gaya hidup yang mahal, dan selalu ingin berlebih-lebihan,” katanya.
"Seorang presiden adalah seorang pejabat tinggi yang dipilih untuk bekerja. Dia bukan raja, apalagi dewa. Dia juga bukan tukang sihir yang mengetahui segalanya," ujar Mujica. "Presiden adalah seorang pelayan rakyat. Saya pikir gaya hidup ideal seorang presiden adalah hidup seperti kebanyakan rakyat yang diwakili dan dilayaninya," paparnya dalam wawancara dengan Al Jazeera beberapa waktu lalu.
Menurut Mujica, yang juga seorang marxis, penyakit ‘kebutuhan tanpa batas’ itu ditularkan oleh kapitalisme. Kapitalisme-lah yang memaksa orang menyembah logika profit, yakni menumpuk keuntungan tanpa batas. Alhasil, manusia menjadi makhluk paling serakah. Kapitalisme pula yang memaksa manusia sejak lahir hingga jadi bangkai untuk menyembah konsumtifisme. Bahkan, manusia dipaksa berkonsumsi di luar kebutuhan dan kemampuannya.
Mujica seakan mengingatkan kita pada Gandhi, bahwa “bumi ini sebenarnya cukup, bahkan berlebih, untuk memberi makan semua penduduk bumi. Namun menjadi tidak cukup untuk memberi makan satu orang yang rakus.”
Di Forum PBB, Mujica telah mengutuk konsumerisme dan penghambaan terhadap pasar. “Kami telah berkorban untuk Tuhan lama yang tidak nyata. Sekarang kami menempati sebuah candi tuhan Pasar,” kata Mujica. Maksudnya, di masa lalu manusia telah berkorban untuk tuhan lama yang tidak nyata, sementara sekarang ini manusia menyembah tuhan baru: pasar.
Lelaki yang memiliki panggilan akrab Pepe itu, telah pulang ke rumahnya. ia meninggalkan kenangan yang berarti di hati rakyatnya.. Mungkin saja gaya kepemimpinan Mujica itulah yang menginspirasi para pemimpin di Indonesia. dengan bantuan media massa, mereka memoles diri supaya tampak sebagai pemimpin sederhana dan merakyat. dulunya pengusaha besar media, mall, properti, dan mebel, langsung hidup sederhana dan merakyat. Sementara kebijakannya justeru mencekik rakyat. seperti privatisasi BUMN/ layanan publik, penghapusan subsidi, liberalisasi perdagangan, dan lain-lain. membiarkan perampokan uang negara atas nama bantuan likuiditas ataupun bailout, seperti kasus BLBI dan Bank Century.
Saya marxis. kesederhanaan saya adalah ideologi. saya bukan chauvinis atau populis kanan. kesederhanaan bukan pencitraan atau gaya hidup. Mungkin itu yang hendak diingatkan Pepe kepada kita. ***
Kemiling, Bandar Lampung, 2 Agustus 2015
![]() |
| José Alberto Mujica Cordano, alias Pepe |
José Alberto Mujica Cordano, lelaki tua itu, sempat 14 tahun menghabiskan waktunya di penjara. selama ditahan ia mengalami penyiksaan dan terisolasi. Mucija masa tahun 1960-an hingga 1970-an memimpin laskar gerilya Tupamaros, sebuah kelompok bersenjata sayap kiri yang terinspirasi oleh revolusi Kuba. Selama ditahan, ia mengalami penyiksaan dan terisolasi, sampai ia dibebaskan tahun 1985, ketika Uruguay kembali ke masa demokrasi.
"Masa-masa di penjara itulah yang telah membentuk pandangan hidupnya," kenangnya. “Saya mungkin terlihat seperti pria tua yang eksentrik. Tapi inilah pilihan,” kata Mujica dikutip Dream dari laman BBC, Sabtu 12 Juni 2014.
Mujica, dilantik jadi Presiden Uruguay 1 Januari 2010, meraup suara 52 % pada pemilu. Setiap hari ia tetap pulang ke rumah. bukan ke istana atau rumah dinas presiden. Sore itu, ia kembali ke rumahnya tidak lagi sebagai presiden. sebagai rakyat biasa. Ia pulang dengan kesederhanaan bersama isterinya, Lucia Topolansky. jalan menuju rumahnya tak berubah masih tanah tak diaspal. Hanya mobil VW Beetle dan harta kekayaan senilai 322.883 dollar atau sekitar Rp 4 miliar, sudah termasuk traktor dan alat pertanian milik isterinya.
“Saya disebut 'presiden termiskin', tapi saya tidak merasa miskin. Orang miskin adalah mereka yang hanya bekerja untuk mencoba memelihara gaya hidup yang mahal, dan selalu ingin berlebih-lebihan,” katanya.
"Seorang presiden adalah seorang pejabat tinggi yang dipilih untuk bekerja. Dia bukan raja, apalagi dewa. Dia juga bukan tukang sihir yang mengetahui segalanya," ujar Mujica. "Presiden adalah seorang pelayan rakyat. Saya pikir gaya hidup ideal seorang presiden adalah hidup seperti kebanyakan rakyat yang diwakili dan dilayaninya," paparnya dalam wawancara dengan Al Jazeera beberapa waktu lalu.
Menurut Mujica, yang juga seorang marxis, penyakit ‘kebutuhan tanpa batas’ itu ditularkan oleh kapitalisme. Kapitalisme-lah yang memaksa orang menyembah logika profit, yakni menumpuk keuntungan tanpa batas. Alhasil, manusia menjadi makhluk paling serakah. Kapitalisme pula yang memaksa manusia sejak lahir hingga jadi bangkai untuk menyembah konsumtifisme. Bahkan, manusia dipaksa berkonsumsi di luar kebutuhan dan kemampuannya.
Mujica seakan mengingatkan kita pada Gandhi, bahwa “bumi ini sebenarnya cukup, bahkan berlebih, untuk memberi makan semua penduduk bumi. Namun menjadi tidak cukup untuk memberi makan satu orang yang rakus.”
Di Forum PBB, Mujica telah mengutuk konsumerisme dan penghambaan terhadap pasar. “Kami telah berkorban untuk Tuhan lama yang tidak nyata. Sekarang kami menempati sebuah candi tuhan Pasar,” kata Mujica. Maksudnya, di masa lalu manusia telah berkorban untuk tuhan lama yang tidak nyata, sementara sekarang ini manusia menyembah tuhan baru: pasar.
Lelaki yang memiliki panggilan akrab Pepe itu, telah pulang ke rumahnya. ia meninggalkan kenangan yang berarti di hati rakyatnya.. Mungkin saja gaya kepemimpinan Mujica itulah yang menginspirasi para pemimpin di Indonesia. dengan bantuan media massa, mereka memoles diri supaya tampak sebagai pemimpin sederhana dan merakyat. dulunya pengusaha besar media, mall, properti, dan mebel, langsung hidup sederhana dan merakyat. Sementara kebijakannya justeru mencekik rakyat. seperti privatisasi BUMN/ layanan publik, penghapusan subsidi, liberalisasi perdagangan, dan lain-lain. membiarkan perampokan uang negara atas nama bantuan likuiditas ataupun bailout, seperti kasus BLBI dan Bank Century.
Saya marxis. kesederhanaan saya adalah ideologi. saya bukan chauvinis atau populis kanan. kesederhanaan bukan pencitraan atau gaya hidup. Mungkin itu yang hendak diingatkan Pepe kepada kita. ***
Kemiling, Bandar Lampung, 2 Agustus 2015
Senin, 27 Juli 2015
MEREKA ADALAH PAPUA
MEREKA ADALAH PAPUA
Lelaki berkulit gelap itu kini sendiri. perbukitan dan hutan bukan lagi kebun miliknya. kami semakin terdesak di tanah sendiri, bisiknya; laut, langit hingga ke perut bumi semua sudah dijaga. semua dikonsesi dan dikuras habis-habisan. kami tak mampu melawan. selalu kalah. kami bertahan hidup dengan sepetak kebun kecil. mengais-ngais serpihan tambang di hilir sungai, karena miliaran ton batuan biji emas dan tembaga, sudah diamankan di wilayah konsesi.
Lelaki berkulit gelap itu semakin sendiri. ia menatap kampung sanak
saudaranya semakin jauh. meninggalkan keramaian. mereka bukan penakut.
mereka pemberani. sudah ribuan yang mati karena mempertahankan hak
hidupnya. Hak leluhurnya.
Lelaki berkulit gelap bertelanjang dada itu adalah Papua. Bukan Tolikara. "Kami bukanlah masjid. bukan gereja. kitab suci kami adalah alam dan kehidupan. dan itu sudah dirampas!" Ia berteriak berlari ke puncak bukit. memukul-mukul tifa sekeras-kerasnya. sementara di lembah bukit, ratusan juta orang menari hula-hula bersama tarian asing lainnya.
Lelaki itu terus memukul tifa, sampai gelap tiba.
CONIE SEMA, 25-07-2015
Lelaki berkulit gelap itu kini sendiri. perbukitan dan hutan bukan lagi kebun miliknya. kami semakin terdesak di tanah sendiri, bisiknya; laut, langit hingga ke perut bumi semua sudah dijaga. semua dikonsesi dan dikuras habis-habisan. kami tak mampu melawan. selalu kalah. kami bertahan hidup dengan sepetak kebun kecil. mengais-ngais serpihan tambang di hilir sungai, karena miliaran ton batuan biji emas dan tembaga, sudah diamankan di wilayah konsesi.
Lelaki berkulit gelap itu semakin sendiri. ia menatap kampung sanak
saudaranya semakin jauh. meninggalkan keramaian. mereka bukan penakut.
mereka pemberani. sudah ribuan yang mati karena mempertahankan hak
hidupnya. Hak leluhurnya. Lelaki berkulit gelap bertelanjang dada itu adalah Papua. Bukan Tolikara. "Kami bukanlah masjid. bukan gereja. kitab suci kami adalah alam dan kehidupan. dan itu sudah dirampas!" Ia berteriak berlari ke puncak bukit. memukul-mukul tifa sekeras-kerasnya. sementara di lembah bukit, ratusan juta orang menari hula-hula bersama tarian asing lainnya.
Lelaki itu terus memukul tifa, sampai gelap tiba.
CONIE SEMA, 25-07-2015
Selasa, 14 Juli 2015
Langganan:
Postingan (Atom)




