POWERFUL DRUM PERKUSI & MANTRA
Senin, 06 Februari 2017
Sabtu, 28 Januari 2017
PUISI CONIE SEMA
MEMULAI GARIS HUJAN
kebisingan
itu sebentar lagi berubah airmata. kita biarkan
kegelisahan menyelinap kemarau di gugusan hutan. seperti
gesekan daun, pelan nyaris tak bersuara. aku tahu, angin
membawa awan membekap napas. sesak dan terputus-putus
lalu kilatan petir menggaris jalan untuk bergerak, hingga
kegelisahan menyelinap kemarau di gugusan hutan. seperti
gesekan daun, pelan nyaris tak bersuara. aku tahu, angin
membawa awan membekap napas. sesak dan terputus-putus
lalu kilatan petir menggaris jalan untuk bergerak, hingga
terkapar di kelebatan hujan. bukanlah
mimpi jika aku mulai
satu dua coretan menggambar garis hujan
satu dua coretan menggambar garis hujan
(22/11/2016)
PUISI CONIE SEMA
MEMULAI GARIS HUJAN
kebisingan
itu sebentar lagi berubah airmata. kita biarkan
kegelisahan menyelinap kemarau di gugusan hutan. seperti
gesekan daun, pelan nyaris tak bersuara. aku tahu, angin
membawa awan membekap napas. sesak dan terputus-putus
lalu kilatan petir menggaris jalan untuk bergerak, hingga
kegelisahan menyelinap kemarau di gugusan hutan. seperti
gesekan daun, pelan nyaris tak bersuara. aku tahu, angin
membawa awan membekap napas. sesak dan terputus-putus
lalu kilatan petir menggaris jalan untuk bergerak, hingga
terkapar di kelebatan hujan. bukanlah
mimpi jika aku mulai
satu dua coretan menggambar garis hujan
satu dua coretan menggambar garis hujan
(22/11/2016)
PUISI CONIE SEMA
KETERASINGAN DI KEBUN
di sana belibis menitip
sayap
ketika daun terberai
hujan
seribu malaikat di jendela rumah
siapa menerbangkan burung tanpa fajar
seribu malaikat di jendela rumah
siapa menerbangkan burung tanpa fajar
kepak
itu tak tertanda kapan Ikan
meninggalkan
lebak
tanpa
kemarau
rumah
jalan basah. awan menggumpal
peta-peta
kecemasan
langit,
hujanlah di belukar rawa
tapak
kerbau berjejak kepergian
tak
pernah pulang
siapa
yang datang
keterasingan
diam.
diam. jadi jutaan kebun
sunyi
berjaga-jaga
Kemiling,
21/11/2016
PUISI CONIE SEMA
SEBELUM MENEPI
siang sungai menepi
pohon lembab berbulir
pohon lembab berbulir
lumpur kaki di jalan
pagar ranting patah
menyelah daun-daun
menyelah daun-daun
pintu-pintu terkibas
terbuka setiap angin
tiba
Kemiling, 18/11/2016
PUISI CONIE SEMA
PULANG
tanah tak lagi sisa biofak pohon yang menghumus tebal
kayu terpanggang panas musim dalam hitungan cuaca
di lain tempat cerita luka bertabur peta depan rumahmu
angin berputar mencari jalan pergi melepas ikatan waktu
tanah ada luka, lembar-lembar sejarah telah kau koyak
angin berputar mencari jalan pergi melepas ikatan waktu
tanah ada luka, lembar-lembar sejarah telah kau koyak
aku mau hidup di udara di
sungai meninggalkan ladang
kebun hutan terbabat. aku
ingin berkebun di atas sungai
melewati sejarah
batu-batu menata kubur di atas sungai
tanah ada luka, kemarahan
tubuh tetap saja membeku
patung di halaman berdiam
bisu tak mengenal rumahku
kau tetap menolak singgah sekedar mengingat-ingat
kau tetap menolak singgah sekedar mengingat-ingat
pesan megalitikum yang tertanam
pahatan batu Pasemah
sungai tetap saja
kekalahan melukis malam dan mimpi
menancap gala menyeling jutaan biji pohon di ladang
di kebun mineral yang terus
terbakar sepanjang musim
Gelumbang, 2014
Langganan:
Postingan (Atom)